Showing posts with label just me. Show all posts
Showing posts with label just me. Show all posts

Monday, August 3, 2015

Jalan-jalan sendiri di Pulau Kumo


(Pulau Kumo - Halmahera Utara, 18 April 2015)

Pulau Kumo, sebuah pulau berpenghuni yang merupakan pulau pertama di perairan Halmahera Utara yang aku datangi. Pulau ini menjadi salah satu alternatif warga sekitar (Tobelo) yang ingin menikmati akhir pekan. Letaknya yang sangat dekat dengan Tobelo menjadikan akses transportasi ke pulau ini sangat mudah dan murah.

Pulau Kumo, Halmahera Utara

Masih teringat pengalaman pertama ke pulau ini, beberapa tahun yang lalu. Sore hari setelah pulang kerja, bersama beberapa teman sekantor. Waktu itu hampir semuanya nyebur di pantai, meski rata-rata tidak tahu berenang – termasuk aku :D –. Ya, tentu saja nyemplungnya di bagian pantai yang dangkal. Hehe…

Kemudian di hari sabtu beberapa bulan lalu, akupun kembali mengunjungi pulau berpenghuni ini. Lagi pengen sendiri menjelajah perkampungannya hingga ke tanjung tempat wisatanya.

Transportasi laut untuk mencapai pulau ini sangatlah mudah. Cukup menumpang perahu ketinting dari pelabuhan Tobelo dengan biaya Rp. 3000,- sekali jalan atau Rp. 6000 pulang pergi ke perkampunganya. Untuk ke tanjung tempat wisatanya, berlaku tarif yang sama pada hari biasa (Senin-Sabtu), sedangkan pada hari Minggu atau libur, tarif ke tanjung pulau Kumo tersebut menjadi Rp. 5000,- sekai jalan atau Rp. 10.000,- pulang pergi. Lama penyeberangan dari Tobelo ke pulau ini sangat singkat. Hanya 5 menit saja.

Pelabuhan Tobelo

Berbeda dengan perahu ketinting jalur ke Pulau Kakara atau Tagalaya yang biasanya parkir di pelabuhan rakyat di sebelah Pelabuhan Tobelo, untuk ke pulau Kumo, perahu ketintingnya berada di dalam pelabuhan Tobelo tersebut. Masuk ke dalam area pelabuhan, kemudian jalan lurus melewati tempat kapal penumpang hampir ke ujung dermaga, lalu belok kiri. Tepat di sebelah kontainer. Di situ, perahu ketinting sudah berjejer. Tinggal naik menunggu beberapa penumpang kemudian perahu siap menyeberang.

Tempat mangkal perahu katinting jurusan Kumo

“Mau turun di kampung atau Tanjung?” tanya pak pengemudi katinting.
“Di kampung aja pak,” kataku.

Penyeberangan ke Kumo

Perahu itupun mendekati pantai berpasir warna krem di depan kampung.

“Biasanya turunnya tidak di sini. Tetapi di pelabuhan kayu di sebelah sana,” kata bapak pengemudi ketinting tadi sambil menunjuk ke sebuah teluk yang dikelilingi pohon bakau. “Air lagi surut soalnya,”ia menambahkan.

Pantai di depan perkampungan Pulau Kumo

Aku mulai menyusuri bagian pantai ini menuju perkampungan. Kota Tobelo terlihat tenang dari sini. Pandanganku kemudian tertuju pada sebuah kapal setengah jadi yang sedang dikerjakan oleh beberapa tukang. Ya, penduduk pulau Kumo dikenal juga sebagai pembuat kapal yang trampil. Waw.. Belakangan aku baru tahu ternyata kapal tersebut merupakan pesanan salah satu kenalanku di Tobelo.

Pembuatan kapal tradisional di Pulau Kumo
Kota Tobelo tampak dari Pulau Kumo. Kebetulan ada perahu layar yang lagi parkir
Pantai di depan perkampungan pulau Kumo, tampak Halmahera Utara di seberang
Perjalanan aku lanjutkan menyusuri pesisir pantai di perkampungan, melewati sebuah Gereja yang biasanya kelihatan megah nun jauh dari Tobelo. Sesekali aku menyapa orang-orang kampung sekedar menanyakan arah jalan.
Desa Kumo
Desa Kumo
Perjalananku terhenti sejenak di sebuah jalan lingkungan dengan gapura di ujung jalan menghadap laut. Ada banyak anak-anak desa Kumo yang sedang bermain. Akupun jadi pusat perhatian mereka. Mungkin karena aku ini kelihatan kayak turis kali yaa, hehehe.. dengan jaket biru terang yang makin menyala norak warnanya karena sinar matahari siang, trus nenteng kamera besar dan tripod. Apalagi pas aku keluarin monopod, ada yang nyeletuk, “tongsis.. tongsis…” katanya. hehehe. Ya sudah, biar adik-adik nggak penasaran, aku ajak foto-foto bareng sambil nyobain tongsis. Dan merekapun tak segan-segan foto bareng. Mungkin karena umur kita nggak beda jauh kali yaa… Hehe… Sempat berkenalan dan foto-foto bareng dengan mereka. Beneran berkenalan lho. Bisa aku sebutin namanya lho satu-satu. :D
Dengan anak-anak dari Pulau Kumo
Ayo adik-adik, kita selfie dulu. hehehe...
Dari depan, kiri-kanan ke belakang: Aldo, Rian, Desi, Kris, Claudia, Marcelia, Frans, Lando
Perjalanan kemudian aku lanjutkan dengan tujuan menuju ke tanjung. Sebenarnya mau eksplore pulau lebih jauh lagi, tapi mengingat waktu, jadi aku skip dulu berlama-lama keluyuran di kampung orang. hehehe... Kampung di pulau Kumo ini cukup bersih dan asri. Di pekarangan rumah-rumah warga umumnya ditanami pohon dan bunga-bunga. Jadi ingat suasana desaku di Minahasa. Terdapat sekolah juga di sini. Di beberapa sisi jalan ada yang jual es lilin. Pas memang dengan cuaca di sini yang cukup terik.
Perkampungan Desa Kumo
Perkampungan Desa Kumo
Aku terus berjalan dengan tujuan menuju Tanjung, berbekal tanya-tanya di beberapa orang yang kebetulan berpapasan di jalan. Aku kemudian mencoba banting setir alias belok ke sebuah jalan setapak, berharap ini adalah shortcut. hehehe.... 
Jalan setapak. Ada bunga-bunga, nggak ada sampah.
Jalan setapak. Bersihnya...
Eh, aku malah nyasar ke sebuah dermaga kayu. Mau muter lagi, dah tanggung. Waktu semakin sore. Namun, wow, nggak sia-sia nyasar di sini, aku disuguhkan pemandangan yang indah, sunyi dan tenang. Suka banget sama suasananya yang hening begini. Hmmm…
Welcome to the island...
di atas dermaga perahu ke kampung Kumo

A silent wooden pier, Pulau Kumo - Halmahera Utara

Nah, tadi pas datang, sejatinya turunnya di sini nih. Namun seperti yang aku bilang, tadi air laut lagi surut. Dan sekarang, menjelang sore, air sudah mulai pasang. Jadi untuk ke tanjung, aku bisa menumpang sebuah perahu dari sini. Dekat banget, hanya beberapa detik aja dah nyampe. Sampe-sampe abang tukang perahu bingung mau kasih tarif berapa. Hehe…


Menuju ke Tanjung wisata pulau Kumo
Sampai di tanjung, ternyata sepi sekali. Di tanjung inilah tempat wisata andalan pulau ini. Hari ini, Sabtu, nggak ada pengunjung sama sekali. Yang ada hanya seorang ibu ditemani suaminya yang sedang bersih-bersih pantai. Dari si bapak aku mendapatkan informasi, bahwa pulau Kumo biasanya dipadati pengunjung hanya pada hari Minggu, terutama sore hari. Bapak ini juga bercerita bagaimana perkembangan wisata di pulau ini, termasuk bagaimana peran pemerintah selama ini. 
Welcome to Tanjung wisata Pulau Kumo, Halmahera Utara
Pantainya nih....
Tanjungnya bersih, rapi dan rindang oleh pepohonan. Ada beberapa papan himbauan yang bertuliskan pesan agar setiap orang yang ke sini menjaga kebersihan pantai dan tidak membuang sampah sembarangan. Ada sebuah bangunan di bagian tengah seperti aula terbuka yang bisa dimanfaatkan pengunjung misalnya untuk kegiatan kumpul-kumpul. Tidak jauh dari situ, ada beberapa rumah atau pondok yang biasanya menjual makanan yang hanya buka di hari Minggu. Di bagian pantai, ada sebuah dermaga kayu yang cukup kokoh. Ada tempat bilas dan toilet juga lho.
Ahhhhh........

Nah...
Jangan buang sampah sembarangan yaa....
lumayan buat nyantai
Tempat pertemuan
hmmm....
Aku belum melihat ada spot snorkeling di dekat pantai ini. Di bagian utara pulau memang dangkal, namun dasarnya berlumpur dan terhampar luas. Minim sekali terumbu karang. Belakangan aku dapat info dari salah satu kenalan di Dinas Pariwisata yang juga seorang guide diving, katanya di bagian belakang pulau atau sebelah timur ada spot untuk snorkeling atau diving yang bagus. “The best”, katanya.


Waktu sudah semakin sore, saatnya kembali. Aku dibantu oleh bapak tadi memanggil perahu yang lewat. Makasih pak. Hehe…

hahaha.... nyante broohh...

Kondisi laut sore itu lumayan bersahabat. Perahu yang aku tumpangi dipenuhi beberapa penduduk pulau Kumo yang akan menyeberang ke Tobelo. Tidak lupa selfie-an sama mereka. Lihat deh senyumnya.. hehe… :D 
Penyeberangan kembali ke PelabuhanTobelo
 


***

Tips jalan-jalan ke Pulau Kumo:
  • Tidak perlu carter perahu. Cukup naik yang reguler saja. Saat sore, sudah banyak perahu yang parkir siap mengantar para pengunjung untuk balik ke Tobelo. Kalo belum ada, tunggu saja perahu yang lewat dari kampung yang akan nyebrang ke Tobelo, trus dipanggil deh. Jangan lupa tepuk tangannya keras-keras atau teriak sekuat tenaga. Hehe…
  • Untuk ke tempat wisatanya, sebaiknya Minggu sore. Kecuali sobat yang tidak terlalu suka suasana ramai dan ingin menyendiri, monggo silahkan di hari lain selain hari Minggu atau libur. Hehe..
  • Ada warung di sini. Namun selain hari Minggu pastinya tutup. Jadi sebaiknya bawa bekal dari Tobelo. Lupa bawa? Tinggal nyebrang lagi ke Tobelo, toh cuman 5 menit. Hehe…
  • Hati-hati kalau mandi di sekitar dermaga, sepertinya ada bulu babi terutama di dekat tiang-tiang penyangga dermaga. Bagusnya sih pake booties biar aman kakinya.
 *****

Monday, August 25, 2014

Reformasi Blog

Setelah berpikir, mempertimbangkan, mengingat, dan lain sebagainya, akhirnya aku memutuskan untuk mengubah nama blogku ini dari yang semula a*****.blogspot.com menjadi pambapontar.blogspot.com

Latar belakang
Well, pas baca lagi, isi blog ini sudah nggak karuan. Mungkin sama kali yaa kayak orangnya. Haha... disamping memperihatinkan karena telah diabaikan oleh pemiliknya, yaitu aku. haha... beberapa postingan yang mungkin nggak begitu penting telah aku singkirkan. kenapa? Yaa, karena memang nggak penting sih buat kepentingan umum. Haha...

Daripada kasihan blog ini terlantar dan usang dimakan zaman, hatiku tergerak untuk mengurusnya lagi. ceileh... haha...

Pambapontar? 
Yoa sob...
Pambapontar berasal dari bahasa sehari-hari orang Sulawesi Utara khususnya Minahasa, kampung halamanku. Pontar artinya jalan-jalan atau keluyuran. Ba artinya melakukan, sedangkan awalan Pam artinya orang yang... Jadi pambapontar bisa diartikan orang yg suka jalan-jalan atau keluyuran. Atau bisa juga diartikan orang yang suka travelling lah. Maksa yaa artinya? Biarin. Hehehe...

Dengan pergantian nama blog ini, semoga bisa lebih memotivasi diriku yang sering dirundung penyakit malas nulis. Emang ada gitu hubungannya nama blog dengan faktor kemalasan? hehe.. Menurutku sih ada. Yah, semoga saja. hehe....

Beberapa postingan lama mungkin akan aku update, terutama foto-fotonya. Jadi mungkin akan ada foto-foto baru yang aku rasa penting untuk ditambahkan di postingan lama agar lebih informatif (duh.. bahasanya itu.. :P). Kelihatan kog dari tahunnya. Misal postingan di tahun 2013 tapi ada foto di watermark-nya tertulis 2014

Nah, itu dia sekilas buat kalian yang penasaran. *ditimpuk*

Friday, June 28, 2013

Suparnowo: Yang Penting Anak-anak Saya Bisa Sekolah...


Belajar menulis: Feature
Belajar menjadi jurnalis itu gampang-gampang susah. Tapi seru dan menantang. Kali ini aku mencoba belajar menulis sebuah feature.
Apa itu feature?
Berdasarkan referensi dari berbagai sumber, aku berkesimpulan bahwa Feature itu adalah sebuah karya jurnalistik yang berisi cerita non fiksi dengan sudut pandang (opini) dari penulis, dengan alur yang sederhana dan mengalir seperti sebuah karya sastra. Umumnya feature mengandung human interest, yang dapat menggugah perasaan para pembaca, misalnya terharu, jengkel, marah, bahkan dapat memotivasi dan menginspirasi.
Awalnya aku masih bingung mau menulis tentang apa dan siapa kali ini. Entahlah, namun aku saat itu yakin, kadang suatu ide bisa muncul tiba-tiba, tak terduga tanpa mesti kita rencanakan sebelumnya. Yang penting tema-nya sudah kita pikirkan, misalnya seperti sekarang ini ada di benakku, perjuangan orang pingiran ibukota dalam bertahan hidup, kita tentukan tempat, terus jalan dulu, siapa tahu ada sesuatu yang bisa kita tulis yang tidak sengaja kita temukan. Aku yang sama sekali tidak mengenal sisi dan sudut ibukota Jakarta merasa kesulitan menentukan tempat bertualang. Aku bbmbeberapa teman, banyak yang menyarankan tempat-tempat yang memang tidak asing. Ya, setidaknya aku sering mendengar nama tempat-tempat itu di televisi. Dan setelah berpikir singkat, kujatuhkan pilihanku ke sebuah lokasi ‘’Terminal Kampung Melayu’’, Jakarta. Syukurlah hari ini tidak hujan, jadi lebih enak jalan-jalannya.
Hiruk pikuk dan berbagai kejadian kriminal di Jakarta yang sering aku lihat di televisi membuatku waspada dan hati-hati dalam menapakkan kaki di kota ini. Agar lebih aman dan nyaman, aku menggunakan taksi menuju jembatan layang terminal Kampung Melayu. Setelah melihat-lihat beberapa sisi tempat ini, mataku tertuju ke sesosok bapak yang dengan peluh bercucuran karena teriknya cahaya matahari sore  yang langsung menerpanya, namun tetap tekun dengan jahitannya. Dan dimulailah sebuah percakapan layakya seorang reporter lugu amatiran. Haha…
Setelah mendapat beberapa catatan, aku kembali menyusuri sisi tempat ini. Banyak permasalahan sosial mewarnai area sekitar. Gelandangan, pengemis, anak-anak jalanan dan lain sebagainya. Miris juga melihat kondisi yang sangat jauh dan berbanding terbalik dengan pemandangan gedung-gedung bertingkat di kota Jakarta. Suasana ini terasa seperti di dunia lain. Seolah tidak ada yang mempedulikannya, dan mereka harus berjuang keras bertahan hidup. Suasana terlihat cukup semrawut.
Mengingat waktu yang semakin sempit dan kemungkinan macet, aku kembali ke hotel dengan menggunakan jasa ojeg. Untuk pertama kalinya aku naik ojeg di Jakarta. 
Berikut ini aku mencoba membuat tulisan jenis feature tersebut. 

Suparnowo: Yang Penting Anak-anak Saya Bisa Sekolah
Oleh: Mulyanto Syawal


Dengan cekatan, tangan yang sudah tidak muda lagi itu memainkan alat jahit tua nan kusam, menyelesaikan jahitan bahan pesanan orang. Kebisingan dan polusi jalanan di depannya seolah tidak sedikitpun mengganggu konsentrasinya dalam bekerja. Demikian juga mentari sore yang menerpa tepat di hadapannya, mencucurkan keringatnya, namun seolah tak dihiraukannya. Terlihat raut muka lelah, tapi hal itu tak menghalanginya menebar senyum ketika saya menghampirinya. Dari komplek bawah jembatan layang Kampung Melayu, Jakarta, Suparnowo bercerita sekelumit kisah hidupnya malang melintang di ibukota sebagai tukang permak pakaian jalanan.





Lelaki berusia 50 tahun ini sudah lama menekuni pekerjaan sebagai tukang permak pakaian jalanan. Kehidupan ekonominya yang sulit di Kebumen, kampung halamannya di Jawa Tengah, memaksanya merantau ke Jakarta untuk mencari penghidupan yang lebih layak. Berbekal nekad dan pengetahuan yang pas-pasan di bidang jahit menjahit saat itu, dia mencoba untuk mengais rejeki di kota metropolitan ini.
‘’Kalau di kampung susah untuk cari uang,’’ ungkapnya.
Ayah dari tiga orang anak ini awalnya ke Jakarta karena ajakan teman sekampungnya untuk bekerja di salah satu perusahaan jahit rumahan. Penghasilannya yang saat itu terbilang kecil memaksanya untuk berpindah ke tempat usaha yang lain. Namun berkali-kali ia merasa penghasilan yang diperolehnya tidak adil dari sang majikan, diapun memutuskan untuk bekerja sendiri. Berbagai macam profesi pernah dilakoninya. Dan akhirnya, pilihannya jatuh ke tukang permak pakaian jalanan. Menurutnya, penghasilannya sekarang lebih baik daripada yang sebelumnya diterima dari majikan.
Untuk satu buah celana atau kemeja yang dipermak, Suparnowo memasang tariff rata-rata Rp. 15.000,- rupiah per potong. Itupun katanya masih sering ditawar oleh pelanggan.
Menekuni pekerjaan tukang permak pakaian di jalanan ini bukan tanpa rintangan. Berpindah dari tempat yang satu ke tempat lainnya sudah sering dilakukan. Lokasi yang biasa dipilihnya adalah daerah ramai dekat stasiun di pelataran toko. Terkadang di bawah jembatan layang, namun sering kena razia. Hujan dan panas seolah menjadi temannya sehari-hari dalam bekerja. Seringkali ada keluhan-keluhan pelanggan yang kurang puas terutama celotehan ibu-ibu yang terkadang tidak enak di telinganya. Namun semua diterimanya dengan ikhlas. Dia menganggap semua itu sebagai proses dalam bekerja yang harus dilaluinya agar menjadi lebih baik nantinya.
‘’Yah, namanya juga cari duitmas. Mau gimana lagi, yang penting selalu berusaha sebaik-baiknya agar langganan tidak lari,’’ imbuhnya sambil sesekali menarik nafas dalam-dalam.
Sudah 20 tahun lebih dia melakoni pekerjaan ini. Keluarganya di kampung halaman menjadi pemacu semangatnya untuk tetap bertahan dan bekerja keras meski harus hidup susah di tengah himpitan ekonomi yang semakin melilit. Dia harus mengencangkan ikat pinggang dan hidup berhemat agar dapat mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk biaya sekolah anak-anaknya yang jauh di sana. Bahkan dalam kesehariannya, dia rela tinggal di sebuah bilik yang disewa bersama dengan beberapa teman seperantauan untuk menekan biaya pengeluaran.
‘’Yang penting anak-anak saya bisa sekolah. Apalagi yang paling bungsu, dia putra satu-satunya, mau masuk STM,’’ imbuhnya dengan senyuman kecil terukir penuh harapan dan kebanggaan.
Sosok Suparwono yang bersemangat namun bersahaja mengajarkan kita bagaimana bersikap menghadapi kesulitan dengan ikhlas dan tidak berputus asa. Perjuangannya untuk  menghidupi keluarga di tengah kerasnya hidup di perantauan menunjukkan pengorbanan seorang kepala rumah tangga yang tanpa pamrih. Sesekali terlintas harapan di benaknya, semoga anak-anaknya mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari yang dilakukannya sekarang.
*****