Showing posts with label Pulau Morotai. Show all posts
Showing posts with label Pulau Morotai. Show all posts

Sunday, April 19, 2015

Pulau Dodola, Hari ini setahun yang lalu (#HISTAL)


(Pulau Dodola, Morotai, 19 April 2014)
“Setiap kali mendengar kata Pulau Dodola, pikiranku segera menerawang membayangkan keindahannya. Pesona “jembatan pasir putih”-nya, jernih air di lautnya yang dangkal di atas pasir putih yang terhampar luas, bau pohon-pohonnya, dan terik mataharinya.”

Pulau Dodola, Morotai

Hampir mirip dengan tweet pak SBY yang akhir-akhir ini menambahkan hastag #HISTAL untuk mengenang pengalaman beliau hari ini beberapa tahun yang lalu. Cuman bedanya, mantan Presiden RI tersebut mempunyai kepanjangan Hari Ini Sepuluh Tahun Yang Lalu, sedangkan kepanjangannya menurut versiku kali ini adalah “Hari Ini Setahun Yang Lalu”. Hehe… Semoga beliau tidak keberatan aku pinjam akronimnya. :D

Ya, aku ingin bercerita pengalamanku pada hari ini tepat setahun yang lalu, yang berkesempatan kembali mengunjungi Pulau Dodola. Sebuah pulau yang membuatku jatuh cinta saat pertama kali melihat foto-foto-nya dan makin jatuh cinta, setelah pertama kali ke sana pada tahun 2012 lalu (klik disini). Okeh, anggap saja aku terlalu berlebihan, tapi ini beneran... hehehehe…

“Kalau belum ke Pulau Dodola, berarti belum ke Morotai”, kata salah satu temanku yang masih terngiang di telinga.

Kisah ini – bedeh… – merupakan bagian dari liburan long weekend di pulau Morotai pada postinganku sebelumnya tentang Tanjung Gorango dan Sunset di Morotai (silahkan di-klik kalo penasaran. Hehe…)
Saat itu masih mengira-ngira kira-kira akan menggunakan transportasi apa jika ke Pulau Dodola dari Daruba. Option pertama adalah menyewa perahu katinting, option kedua menyewa speedboat yang lebih mahal. Namun dari pemilik homestay kami sempat mendapat informasi, bahwa untuk ke pulau Dodola ada speedboat reguler punya Pemda (pemerintah daerah) yang lebih murah. 
Sarapan paginya ini. Entah apa namanya, ini khas Maluku Utara.

Pagi-pagi benar kami sudah bangun dan bersiap-siap. Tidak lupa sarapan terlebihdahulu. Salah satu makanan khas Maluku Utara (entah apa namanya) sudah siap di meja. Makanan ini terbuat dari beras dilengkapi dengan gula merah dan kelapa. Setidaknya itu adalah komposisi yang berhasil aku identifikasi. hehe... Dan setelah makan, kami menuju ke Pelabuhan Daruba.


Sesampainya di sana, perhatian kamipun tertuju ke sebuah tempelan di dinding yang lumayan membuat hati yang gundah gulana menjadi tenang. Hehehehe.... . Seperti ini penampakan tempelan tersebut.
Pelabuhan Speedboat/Kapal Kayu Daruba
Ini dia.....

Iya kan? Siapa yang tidak senang cobak. Jadi tidak perlu bersusah payah mencari speedboat atau perahu katinting, apalagi mesti capek-capek nego, paling males dah kalo urusan tawar menawar. Namun tantangan selanjutnya adalah…. Menunggu penumpang lain yang harus terkumpul minimal 13 orang. Fiuhhh… Bengonglah kami selama beberapa saat.
Suasana dermaga speedboat Daruba, sambil menunggu....
Tidak lama kemudian –sejam lebih euy–, orang-orang yang ingin ke Pulau Dodola makin berdatangan. Kamipun segera mendaftar agar tidak kehabisan kuota. Setelah kuota memenuhi forum alias mencukupi, rame-rame dah nyebrang.
Akhirnya... Dodola, we're coming....!!!!
Kami satu rombongan dengan beberapa orang tentara dengan rombongan mahasiswa. Salah seorang dari anggota TNI yang kebetulan meminjam perlengkapan snorkelingku bercerita bahwa mereka mengawal para mahasiswa selama beberapa bulan yang melakukan penelitian di belantara hutan Morotai. Dia juga mengatakan bahwa sampai saat itu, sebagian besar penugasannya adalah mengelilingi Indonesia dalam ekspedisi serupa. Wah, senangnya bisa ditugaskan menjelajah Indonesia. Baru tahu aku ternyata di TNI ada penugasan seperti itu. Dia bercerita pula pengalamannya panjang lebar menyusuri pulau Morotai lengkap dengan nuansa mistis yang pernah dialami.

Pulau Dodola Besar dan Kecil, tampak dari jauh.

Kembali ke Pulau Dodola. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit, kamipun sampai di pulau yang merupakan icon wisata andalan Kab. Pulau Morota ini. Tidak banyak berubah dari pulau Dodola. masih asri dan indah. Bahkan kali ini aku merasa makin menikmati keindahannya. Mungkin karena suasananya yang sunyi, sangat berbeda sebagaimana tahun 2012 lalu yang ramai karena bersamaan dengan perhelatan Sail Indonesia di Morotai.
Speedboatnya menepi di sini untuk menurunkan penumpang


Kami kawan bertiga, aku Jihad dan Ichad, awalnya menuju ke bagian dermaga kayu kemudian lanjut menyusuri pantai di sebelah kiri pulau. Sunyi sekali di sini. Kami melihat seorang bapak nelayan yang sedang beraktivitas, menjemur ikan yang mungkin akan dijadikan ikan asin. Morotai juga dikenal sebagai penghasil ikan asin di Maluku Utara lho. Salah satu teman di kantor sering memesan ikan asin dari Morotai sebagai ole-ole ketika mudik ke kampung halamannya. Btw, halaman berapa emang? Hehehe…..

Menyusuri bagian kiri pulau Dodola Besar
Seorang nelayan yang sedang menjemur ikan di atas perahu katinting

Kami kemudian kembali ke dermaga kayu tadi. Aku ingat betul dua tahun yang lalu, ada papan namanya yang berdiri di dekat dermaga ini. Namun sekarang sudah tidak nampak lagi. Kutengok kiri kanan barangkali papan namanya udah berpindah tempat atau mungkin lagi sembunyi. Hehehe…. Ternyata tiangnya udah patah dan terbiar terlantar dan diabaikan di antara semak belukar. Kasihan… Tapi, oh, thanks God, tulisannya masih utuh dan jelas terbaca. Segera kami giring ke dermaga dan diajak foto bersama *terharu*

Dermaga kayu di Pulau Dodola. Kami bertiga aja, kiri-kanan: Jihad, Ichad, aku.

Ingin rasanya nyebur bermain air di seputaran dermaga kayu ini. Siapa cobak yang bisa nahan godaan air laut biru tosca dengan gradasi warna memukau sejernih kristal. Hadehhhh….

Pengen loncat.... @_@
Pengen nyebur... @_@

Kami dengan berat hati sepakat melewati sesi nyebur di bagian dermaga ini untuk menyisir bagian lain pulau yang tak kalah menggoda. Apa lagi kalo bukan meniti “jembatan pasir putih” menuju ke Pulau Dodola Kecil. Adalah hamparan pasir putih yang luas dan panjang, yang akan muncul tatkala air laut surut dan menghubungkan Pulau Dodola Besar dan Pulau Dodola Kecil.
Di pulau Dodola terdapat taman, pohon-pohon yang rindang, cottage dan bangunan pertemuan yang bisa disewa. Mau bakar ikan? silahkan... hehe...


Di pulau ini banyak ditumbuhi pohon-pohon, di antaranya pohon pinus, juga pohon-pohon yang mungkin sebangsa pinus. Nggak tahu namanya apa. hehe... Oke, mari kita lanjut ke "Jembatan Pasir Putih"-nya. Ini dia...
Di atas "Jembatan Pasir Putih" di Pulau Dodola. Tampak di seberang sana Pulau Dodola Kecil yang imut. hehe....
Di atas "Jembatan Pasir Putih" di Pulau Dodola. Di seberang sana Pulau Dodola Besar.
Siapa cobak yang mau bilang “jembatan pasir putih” ini tidak indah??? Hayo siapaa??? Aku aja yang mengetik bagian ini merasa masih merinding, terharu, berbinar bahkan hampir speechless karena sambil membayangkan keindahannya. Duuuhhh….. hehe..
I Love Dodola....
Thanks God I'm Here... Pulau Dodola....


Foto di atas tampak pulau Dodola Besar di belakang. aku jadikan backround blogku ini. :D Oke, lanjut yaaa foto2nya. hehehehe..... Kali ini dengan Pulau Dodola Kecil tampak di belakang kami.

Di atas "Jembatan Pasir Putih", tampak belakang: Pulau Dodola Kecil.

Penasaran dengan bentuknya di atas ketinggian, akupun mencoba memanjat di sebuah batang pohon di Pulau Dodola Kecil. Nggak sampe ke atas banget sih. Kamera dan tripodnya berat euy... hehehe.. Nah, seperti ini penampakannya dari atas.
Pulau Dodola dari ketinggian yang nggak terlalu tinggi. hehehe....
Salah satu tempat favouritku di sini adalah hamparan pasir putih luas dengan sisa-sisa air laut yang semakin surut tepat berada di sebelah kanan Pulau Dodola kecil. Pemandangan putih luas dan nyaris tersambung dengan pulau Kolorai nun jauh di sana semakin melengkapi pesonanya. Tak jarang ratusan mungkin bahkan ribuan burung camar sering menyambanginya, yang kemudian segera bubar tatkala aku mencoba mendekatinya.

Di ujung sana ada rombongan burung camar lagi arisan. Keliatan nggak??

Suatu ketika salah seorang teman, sebut saja namanya Benny, hehehe..., menanyakan tentang letak di mana di Pulau Dodola ini, hamparan pasir putih yang membentuk bekas riak-riak ombak. Akupun penasaran. Oke, I'm in a mission. Sebagai teman yang baik hati, tidak terlalu sombong dan rajin menabung, aku coba cari yaa bro, mudah-mudahan ketemu. Hehehe...

Katanya lagi, mungkin di atas "Jembatan Pasir Putih" antara Dodola Kecil dan Besar. Dan suatu ketika hampir sebulan setelah liburan ini (tanggal 14 Mei 2014) -alhamdulillah ke sini lagi :D- secara tidak sengaja aku menemukan riak-riak yang mungkin itu yang dimaksud bang Benny. Namun letaknya di hamparan pasir putih setelah pulau Dodola Kecil ini -yang aku bilang tempat favoritku di atas itu lho. hehe... -. Agak jauh memang, dan biasanya orang-orang jarang ke sana. Mungkin jejak riak-riak itu bisa terbentuk di "Jembatan Pasir Putih" atau area yang lain, tergantung mood-nya si ombak kali yaaa. Ya iya lah, suka-suka si ombak donk yaa, gak boleh maksa. Kalo mau, coba bikin aja sendiri. hehehe.... Berikut penampakannya @_@
Riak-riak di atas pasir ini.. indah sekali...
Liat riak-riak di atas pasir yang bersih begini, jadi pengen tidur2an. hehehe....

Setelah belumpuas menjelajah Pulau Dodola Kecil, kami kembali ke Pulau Dodola Besar. Tapi sebelumnya, kami duduk-duduk berteduh sejenak melepas lelah di bawah rimbunnya pohon di Pulau Dodola Kecil, sambil menikmati indahnya pulau-pulau dan laut yang berjulukan "Mutiara di Bibir Pasifik" ini.

Berteduh sejenak di Pulau Dodola Kecil
Berteduh di Pulau Dodola Kecil sambil narsis adalah kewajiban. haha....

Dari Pulau Dodola Kecil, kembali kami menuju Pulau Dodola Besar. Di sini aku kemudian mengobati kekecewaan terpendamku dua tahun yang lalu. Apa itu? Menikmati laut di Pulau Dodola. Berenang cuyyyyy…… hihihihi…. *tertawa tantegirang*
Siap-siap mau nyebur...
foto dulu lah.. pinjem sebentar fins-nya buat pemanis buatan. hehe...

2 (dua) tahun yanglalu aku mengira pantai di depan pulau Dodola ini cukup dalam, karena warna hijau gelap air laut yang berjarak beberapa meter dari bibir pantai. Setelah aku berenang, eh ternyata aku salah besar. Area yang aku anggap dalam tadi ternyata relatif dangkal. Mungkin hanya sekitar 2 meter-an. Warna hijau gelap yang nampak dari atas itu karena rumput yang tumbuh di dasar pantai. Jarang kulihat terumbu karang. Namun sempat menemukan beberapa anemone lengkap dengan ikan badutnya. Air lautnya yang tenang makin membuatku bersemangat berlama-lama berenang. Sayang sekali aku tidak bisa mengabadikan kondisi bawah lautnya, karena kamera underwater-ku diambil sama Tanjung Gorango pada hari sebelumnya *sedih*

Yesss... nyeburrrr....!!!!!

Siang semakin lewat mendekati sore. Kamipun harus bersiap-siap untuk kembali. Air di bagian pantai semakin surut juga. Suasana sore menurutku semakin indah. Terangnya mentari yang tidak seterik siang tadi yang mulai miring ke arah barat membentuk bayangan pohon yang disinarinya menambah nuansa tentram di pulau ini. Hmmm.... berat rasanya harus berpisah lagi denganmu Dodola...

Menjelang sore di Pulau Dodola.

Kemudian pura-pura tersadar, kalau hari ini adalah hari minggu, dan besok Senin harus ngantor lagi. Rasa rindu dengan Pulau Dodola pun mulai tumbuh seiring dengan berpisahnya speedboat dari bibir pantai menuju kembali ke Daruba.
I'll miss you, Dodola @_@
Pikiranpun tambah kalut karena sore harinya harus kembali pulang ke Tobelo. Hadehhh :( *sambil menatap kondisi ombak*

Seperti pada postingan pulau Dodola sebelumnya, aku ingatkan, hati-hati dengan terik panas mataharinya. Terlalu enjoy menikmati pulau Dodola akan membuat anda lupa dengan kulit yang semakin gosong. Hehehe….

I Love Dodola…. I Love Morotai :D

Semoga suatu saat kita ke sini lagi yaakk.. hehe... (sial, posenya nggak kompak, hehe...)
 ***

Tips perjalanan ke Pulau Dodola

  • Sesuai foto di atas, speedboat reguler setiap Sabtu dan Minggu dengan tariff Rp. 60.000 PP per orang. Jangan lupa langsung daftar biar nggak kehabisan kuota. Atau kalau rombongan dan yang lain masih sibuk dandan, salah satu bisa datang duluan untuk booking.
  • Bisa sewa speedboat mulai Rp. 500.000,- dan silahkan nego untuk sekalian ke pulau-pulau sekitarnya, misalnya pulau Zum-zum (tempat nyantai om Jenderal Mc. Arthur jaman perang dulu).
  • Sempatkan menjelajahi hamparan pasir putih di sebelah Pulau Dodola Kecil sampe hampir mendekati ujungnya. Kebanyakan orang aku lihat jarang ke situ. Mungkin karena jauh. Padahal di situ pasir putihnya yang halus sering membentuk riak-riak ombak dan bagus buat objek foto.
  • Nikmati, nikmati dan nikmati keindahannya. Jangan takut gosong. Hehehe…

*****

Saturday, January 3, 2015

Menikmati Senja di Morotai


Suatu Senja di Morotai
Sunset atau matahari terbenam menurutku menjadi sebuah moment yang wajib dinikmati kalau sobat sedang liburan di Morotai. Suasana kota kecil di tepi laut yang menyatu dengan merah keemasannya langit di atas laut bibir pasifik seolah memberikan nuansa tersendiri yang mungkin jarang kita temui di tempat lain. Setidaknya sudah tiga tempat di pulau ini yang pernah aku datangi untuk menikmati sunset. Tentu saja bukan hanya ada tiga tempat tersebut. Bisa jadi masih banyak tempat di sisi lain di pulau Morotai.

Berikut ini aku akan  mencoba membahasnya satu per satu tiga tempat tersebut.

1. Depan kantor Bupati, Morotai (18 April 2014)
Senja di depan Kantor Bupati, Morotai
Posisi kantor Bupati yang berada di ketinggian, dengan area depannya berupa jalan raya dan lahan terbuka, membuat matahari yang terbenam tepat di atas laut kelihatan terpampang nyata. Hehe… Saya jadi membayangkan, gimana yaa suasana kalau lagi sore-sore di kantor Bupati ini sehabis bekerja, tinggal duduk santai di atas balkon, dengan ditemani secangkir teh atau kopi dan sepiring pisang goreng. Duh…
Narsis dulu sambil menunggu waktunya sunset di depan Kantor Bupati Morotai
Karena ini kantor pemerintah, jadi kita tidak boleh sembarangan masuk. Apalagi pas hari libur, kantornya kan tutup. Tapi jangan khawatir. Kita bisa juga duduk nongkrong di beton pinggir jalan raya di depan kantor. Untuk menuju ke tempat ini tidaklah sulit. Dari pusat kota Daruba, tinggal jalan kaki, bisa tanya-tanya ke orang sekitar. Atau kalau mau gampang dan cepat, naik bentor (becak motor) saja.
Senja di depan Kantor Bupati, Morotai
2. Pesisir pantai di resort Jababeka (14 Mei 2014)
Jababeka Resort, Morotai di sore hari
Ingin menikmati sunset sambil bermain di pantai? Ini salah satu tempatnya. Resortnya jauh dari keramaian. Sepertinya tempat ini cocok banget buat yang mau bulan madu. Sore harinya tidak perlu jauh-jauh untuk menikmati sunset. Karena lingkungan resortnya sudah sekalian dengan pantainya. Tinggal jalan kaki aja ke arah laut. Kekurangannya adalah masih terdapat sampah berserakan di pantainya. Di samping itu, lokasinya yang jauh dari pusat kota sehingga membutuhkan kendaraan untuk sekedar mencari makan di luar resort.

Senja di Jababeka Resort, Morotai
Senja di Jababeka Resort, Morotai

3. Taman Kota (17 April 2014)
Taman Kota Daruba, Morotai
Taman Kota Daruba, Morotai di kala senja
Dari ketiga tempat yang aku bahas, tempat inilah yang paling aku favoritkan. Terletak di pusat kota Daruba membuatnya sangat mudah untuk dicari. Tamannya berhadapan langsung dengan laut dengan posisi terbenamnya matahari tepat di depannya. Terdapat beberapa pondok kecil untuk duduk-duduk sambil makan pisang goreng, air guraka, ikan bakar, dll. Tinggal pesan di warung-warung yang terletak di sisi kiri atau kanan. Semakin malam, suasana di taman ini semakin ramai. Tua, muda, anak-anak, rakyat biasa bahkan para pejabat sering nongkrong di tempat ini. Tidak usah khawatir kemalaman, berdasarkan pengalamanku, kota ini cukup aman di malam hari.
Menanti sunset di Taman Kota Daruba, Morotai (kiri-kanan) Jihad, Ichad, Thox
Senja di Taman Kota Daruba, Morotai
Senja di Taman Kota Daruba, Morotai
Itu saja cerita singkatku tentang suasana sunset di beberapa lokasi di Morotai yang pernah aku datangi. Semoga bisa menjadi tambahan referensi. Silahkan baca tulisanku yang lain tentang Morotai dengan di sini.
Narsis Menanti senja di depan Kantor Bupati, Morotai :D
Oh, ya. Menurutku sunset di sini akan sangat indah sekitar jam 18.25 s.d. 18.45 WIT. Jangan ketinggalan moment yaa… :D

 *****

Monday, October 20, 2014

Menikmati Pesona Pantai Tanjung Gorango


(Morotai, 18 April 2014)

gorango = hiuuuu.... :O

Apa? Gorango? Hah???

Mendengar kata itu, langsung terlintas di pikiranku, seekor ikan buas dan ganas dengan rangkaian gigi-giginya yang tajam yang menjadi predator bagi ikan lainnya, bahkan bisa jadi ancaman bagi manusia apabila "bermain-main" di dekatnya. Nggak percaya? Coba saja. :P

 

Di beberapa daerah timur Indonesia, termasuk Maluku Utara, Gorango ini adalah nama sejenis ikan, yang dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar berdasarkan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dan Kamus Besar Bahasa Indonesia disebut Ikan Hiu. Hehe... Jadi Tanjung Gorango dapat disebut juga Tanjung Hiu. wew... atut nggak? atut donk yaa.. hehe...

 

Entah kenapa dinamakan tanjung Gorango. Dari beberapa teman dari Morotai yang aku tanya, belum ada yang bisa menjawab dengan pasti. Beragam versinya. Salah satu ada yang mengatakan karena bentuk tanjungnya yang kayak ikan hiu. Tapi kalau aku perhatikan, kayaknya enggak deh. Atau mungkin mataku minus-ku ini yang salah liat yaak? hmm.. Entahlah. Atau, apakah banyak ikan gorango di situ seperti yang katanya banyak mondar mandir di perairan seputar Pulau Matita? Entahlah. Yang pasti aku sangat penasaran.

 

Tanjung Gorango adalah sebuah pantai yang berhadapan langsung dengan Samudera Pasifik, terletak di Kecamatan Morotai Utara, di antara Desa Gorua dan Korago, Kab. Pulau Morotai, Maluku Utara. Pantainya persis berada di pinggir jalan umum ke arah utara pulau Morotai. Dari Kota Daruba ke Tanjung Gorango membutuhkan waktu kira-kira 3 Jam dengan mobil.

 

Kali ini aku akan bercerita tentang pengalamanku ke Tanjung Gorango pada pertengahan April 2014 lalu. Satu rangkaian dengan tulisan sebelumnya tentang perjalanan ke pulau Morotai.

Tempat mangkal mobil travel dekat pelabuhan Daruba, Morotai

Dari penginapan di Daruba, kami menyewa mobil dengan harga Rp. 300.000 (sudah termasuk pengemudi lho), di luar bensin. Untuk ukuran Morotai, biaya ini sudah tergolong murah. Agak susah waktu itu mencari bensin, sehingga kami membeli lewat “pertamini” dengan harga Rp. 10.000 per liter. Kita isi kalo tidak salah sekitar 10 liter saja. Nah, yang jadi pengemudi waktu itu adalah bang Samsul, anak dari pemilik penginapan.  


bang Samsul
Sedikit cerita nih tentang bang Samsul. Orangnya agak kurus, gondrong dan kribo. Rocker abisss…. Keren pokoknya. Mengingatkan pada mantan gitaris band rock favoritku, Slash. Cuman tampangnya lebih mirip Kaka Slank. Kalo yang belum kenal, pasti takut kali ya. Tapi kalo udah diajak ngobrol, ternyata orangnya baik, supel, gokil, dan humoris. Dijamin nggak bakal sepi selama perjalanan. Haha…

Sebelum berangkat, beli makan dulu di warung dekat pelabuhan Daruba. Harganya standard. Paling-paling lebih mahal seribu dua ribu dari Tobelo. Nggak beda jauh banget lah. Kami beli nasi bungkus dengan selera makanan rumahan -bukan murahan lho yaa. awas, jangan salah baca. haha...- dengan harga Rp. 15.000.

 

Oke, logistik siap, perlengkapan siap, dan perjalanan pun dimulai sekitar pukul 08.30 pagi. Suhu di Morotai pagi itu masih belum terlalu terik. Setara lah dengan pukul 7.30 di Manado. Semakin siang, panas matahari akan semakin menyengat. Kalau kata teman sih, matahari di Morotai rasanya seperti ada tiga. Ahhh.. lebay banget deh temanku itu. Bukan tiga keleus -bener gak nih nulisnya-, tapi masing-masing orang dapet satu mataharinya. Hehehehehe.....

Perjalanan ke Tanjung Gorango, Morotai
Perjalanan menyusuri jalan utama di pesisir pantai sebelah timur pulau Morotai. Kami melewati beberapa perkampungan. Sepertinya jalan raya trans Morotai sementara dibangun. Beberapa jalan di perkampungan sedang diaspal, ada yang dilebarkan, dan ada pula yang baru dalam tahap persiapan. Terlihat dari material berupa pasir, tiang pancang dan batu di pinggir jalan. Beberapa jembatan ada juga yang sedang dibangun. Ada pula jalanan yang belum diaspal sama sekali alias masih tanah.

Perjalanan ke Tanjung Gorango, Morotai

Sebelah kanan jalan kerap disuguhi pemandangan laut. Yoi, Samudera terluas di dunia, Samudera Pasifik ada di sebelah kanan kami sob. 

 

Sepanjang perjalanan, bang Samsul banyak bercerita mengenai Pulau Morotai, pengalamannya menyusuri hutan, serta hal-hal mistis seputar pulau berjulukan Mutiara di bibir Pasifik ini, yang membuat perjalanan terasa semakin lengkap.

 
Perjalanan ke Tanjung Gorango, Morotai, view Samudera Pasifik

***

Btw, pas lagi nulis paragraf ini, di TV salah satu stasiun tv (sebut saja net. :P) tiba-tiba diputar lagu favoriteku, Sweet Child o’Mine by GNR. Tuh kan, apa kubilang. Pas banget habis nyeritain tentang Slash dari Morotai. Hehehe…. Peace yoo bang…. Hehe….

 

**rehat sejenak menikmati lagu**

G N' R.. You're rock...!!!!

Hmm.. jadi ingat teman-teman GNR gank jaman sekolah dulu. 

 

Okeh, lanjut….

 

Wait… wait…. Bener2 dah nih stasiun tipi.. bikin nggak konsen aja. Lanjut dia dengan Estrange, Patience, Welcome to the jungle dan ngebahas tentang band ini….

*nikmatin lagu dulu sob…*

 

_beberapa menit kemudian..._

Oke. Kembali ke laptop.

Sampai di mana tadi? *scroll up*

***

 

Mobilnya tempur melewati sungai
Kondisi jalan ke Tanjung Gorango
Perjalanan ke Tanjung Gorango bukan tanpa tantangan. Sesekali kami harus mencari jalan alternatif karena beberapa ruas jalan yang sedang dibangun. Belum lagi debu beterbangan dari medan yang masih tanah alias belum diaspal. Tadi udah aku ceritakan sedikit ya tentang kondisi jalannya. Nah, setelah sekitar 2 jam lebih perjalanan, di depan kami ada sungai. Iya, bener sob. Sungai membentang sepanjang jambul khatulistiwa ala Syahroni. Jembatannya belum ada sob. Yang ada cuman sebuah rakit yang cukup untuk motor saja. Hati ini hancur rasanya, jangan sampe rencana ke Tanjung Gorango yang katanya indah itu batal. Oh, tidaaakk. Pikiran ini terasa mulai nggak karuan... *galau sejenak*. Bang Samsul dengan sigapnya langsung keluar melihat keadaan di depan. Fortunately, air lagi sedikit surut. Jadi nggak terlalu dalam –menurut penerawangan bang Samsul– . Artinya apa? Tempur coy. Aduh, gimana nih bang kalo ketahuan ibunya

karena mobilnya tempur sungai?.. hehe… Alhamdulillah, kami bisa menyeberang dengan selamat. Maksudku, mobilnya selamat. Hehe…

Jalanan tanah menanjak-menurun menuju Tanjung Gorango. hehe...

Tanjung Gorango view dari ketinggian

Perjalanan masih berlanjut dengan jalanan tanah keras berdebu dan naik turun bukit. Tidak berapa lama, kami sampai di salah satu dataran yang agak tinggi. Mobil avanza yang kami tumpangi ternyata cukup tangguh juga. Dan tiba-tiba... Waaawwww..... Tanjung Gorango ada di bawah sana sob. Dari atas bukit ini, Nampak Tanjung Gorango dengan lekukan-lekukannya indahnya yang seolah sedang menantang luasnya samudera Pasifik di hadapannya. Subahanallah....

 

Tanjung Gorango, view dari jalan umum

 Tidak sampe berapa lama, kami akhirnya tiba di Tanjung Gorango.  Letaknya pas berada di pinggir jalan. Jadi tidak perlu repot-repot jalan kaki jauh-jauh untuk mencapai pantainya dari jalan umum. Hanya lima langkah dari rumah. Eh, "jalan raya" maksudnya. hehe... 

 

Kesan pertama? Sunyi, sepi, bersih, luas, ombak besar, dan pantai perawan. Ya, suasana yang sangat langka untuk pantai seindah ini apalagi di hari libur weekend begini. Agak bingung juga sih awalnya, kenapa disebut tanjung, padahal sudah jelas-jelas terpampang nyata kalau ini adalah sebuah teluk. Entahlah, nggak usah dipikirin kali yaa.. yang penting indah. Indahhh sekali. Hehe…

Tanjung Gorango, Morotai

Tanjung Gorango, Morotai

Selain hamparan pasir putih, di sisi kiri terdapat bebatuan serta bongkahan-bongkahan karang dan tebing yang menambah lengkap keindahannya. Awalnya aku menyusuri sisi pasir putihnya, baru kemudian menuju ke sisi yang banyak bebatuannya. Tak lupa jeprat jepret prat pret preeettt.. haha….

 

Tanjung Gorango, Morotai

Di tempat ini, kami bertemu dengan sebuah keluarga petani penduduk setempat yang sedang duduk di pondok kecil depan pantai. Sepertinya mereka lagi santai beristirahat setelah dari kebun. Menurut bang Samsul dan kakek itu, apabila air surut, hamparan pasir akan menjadi sangat luas, bahkan bisa sampe beberapa ratus meter. Cuman pada saat kami datang hari ini, air lagi sedikit pasang, dan ombak lagi lumayan tinggi. Maka jadilah kami tergoda ingin menikmati gulungan ombak itu. Kelihatannya ombak yang ada tingginya mungkin mencapai lebih dari 3 meter. Karena pantainya cukup dangkal, makanya kami berani main-main dengan ombaknya yang tinggi itu.

 

Sebelumnya, makan dulu sob. Laper.. Hehe.... 
Mari makaaan....

Tanjung Gorango, Morotai

Tak lupa kamera underwater untuk mengabadikan gulungan ombak dari dekat, merekam momen seru diterjang ombak, dan akhirnya kembali lagi ke pinggiran pantai. Mengejar ombak yang besar seolah menyerahkan diri ini agar diterpa oleh keangkuhannya. Seru sekali, dan kami hanya berempat seolah memiliki pantai yang luas dan indah pada hari ini. Maaf ya, terlalu banyak kata seolah. haha...

 

Kami mengamati gulungan ombak. Menunggu ombak yang besar kemudian lari ke arahnya dan menantang dari arah berlawanan, kemudian hanyut di tengah gulungannya. Rasanya seperti anak-anak pantai gitu. Haha. Di tengah suasana hepi-hepi itu, tiba-tiba, wah, itu dia ada ombak yang besar. Kejaaarrrr brooo….. Jlebbbb… dan… haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…. Sambungan tali kamera lepas. Oh my… Tadi aku nggak sengaja memencet kaitnya sehingga lepas sambungannya. Kulihat dia lepas hanyut perlahan tepat di depanku. Kayak adegan slow motion di film-film gitu. Kucoba meraihnya sekuat tenaga dengan menyelam ke arahnya, namun tiba-tiba ombak besar menghatamku lagi menuju ke tepi  pantai. Oh… Perasaan jadi campur aduk, membayangkan momen-momen berharga yang terabadikan itu ditelan oleh ganasnya ombak pantai Tanjung Gorango. T-T

 

Ya sudahlah, tidak ada gunanya menyesal. Belum rejeki, kataku dalam hati. Untung Tanjung Gorango hanya mengambil kameranya, dan bukan orangnya -amit-amiiiiit... -Ambil hikmahnya saja. Lain kali harus menggunakan floating strap. Padahal foto-foto dan rekaman diterjang ombak tadi adalah momen yang langka. Sangat sangat langka. Apalagi momen lucu di mana pas si Jihad dihantam ombak besar dari belakang tadi. Hahaha.... Dan masih banyak rekaman lucu lainnya. Hadeh.. Biarlah dia membekas di dalam hati saja. Hmmm… *putar lagu sendu* hehe…

Kiri-kanan: Thox (aku), Ichad, bang Samsul, Jihad

Pokoknya kalau sampe ada yang menemukan kamera Nikon aw110 warna hitam dan memorinya berisi foto dan rekaman kami, itu adalah punyaku. Nggak apa-apa ambil aja kameranya, yang penting memorinya dikasih ke aku, setelah dicopy, aku kasih deh memorinya juga. Hehehehe….. *masih ngarep :P*

 

Well, sudah dulu galaunya, saatnya melanjutkan senang-senang bermain dengan ombak. Lupakan sejenak kamera itu. Ayo kawan-kawan kita main lagi. Kerjar ombak ituuuu...  haha…. Tentu saja foto-foto bermain ombaknya tidak bisa diposting di sini. :(





Tanjung Gorango, Morotai

Hari sudah semakin sore, saatnya kami pulang kembali ke Daruba. Tentu saja melalui jalan yang tadi. Syukurlah air di sungai belum naik, jadi kami masih bisa “meloloskan” diri. Seandainya airnya naik, berarti kami tidak bisa pulang sore ini. Hehe..

Perjalanan pulang ke Daruba, Morotai

Suasana perjalanan pulang ternyata enak juga. Pemandangannya lain dari arah berlawanan. Apalagi pas melalui jalanan yang berada di ketinggian. Samudera Pasifik lagi-lagi kelihatan sangat indah dari atas sini. 

Perjalanan pulang ke Daruba, Morotai. View Samudera Pasifik

Sampai di Daruba sudah sore. Siap-siap menikmati sunset. Aaahhh… sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Tanjung Gorango, sepertinya aku akan sangat merindukan tempat ini. 

***


Tips perjalanan ke Tanjung Gorango

  • Sebaiknya menggunakan mobil sendiri/sewa.

  • Perjalanan bisa dilanjutkan sekalian ke Tanjung Sopi, masih ke arah utara Pulau Morotai. Katanya tempat itu sering dikunjungi bule untuk berselancar. Taman lautnya juga bagus beud -bener gak ya nulisnya :P -.

  • Suasana menjelang sore di sini rasanya gimanaa gitu. Entahlah, tapi aku suka saat matahari sore menerpa pantainya sekitar jam 15.00. Semacam ada rasa damai yang tercipta dalam hati, pikiran dan perasaan -pengen muntah yaa... Haha.. -

   *****