Showing posts with label diving. Show all posts
Showing posts with label diving. Show all posts

Sunday, August 21, 2016

Diving di Pulau Pawole, Halmahera Utara

(10-05-2015)

2 hal yang sangat ingin aku lakukan sebelum pindah dari Tobelo, adalah diving dan naik gunung Dukono.
***
Sudah hampir 4 tahun mengabdi di Bumi Hibualamo, mungkin sudah mendekati penghujung masa kerja di sini. Entahlah… biasanya di instansi tempatku bekerja akan me-mutasi-kan staf pegawainya yang sudah bekerja di suatu daerah minimal 4 tahun.
Alhamdulillah, kedua hal tersebut sudah kesampaian, setidaknya dalam kurun waktudua bulan di semester pertama tahun 2015, dan sekarang aku akan bercerita tentang salah satunya, yaitu diving pertamaku di Halmahera Utara.

Sekitar awal tahun 2015, muncul keinginan untuk diving di seputaran Tobelo, Halmahera Utara. Akupun mencoba mencari infomrasi dari internet, dan menemukan salah satu situs wisata yang juga menyediakan jasa untuk diving. Akupun mencoba menghubungi kontak yang tersedia di website tersebut dan membuat appointment. Namun, beberapa kali gagal diving karena cuaca buruk serta kesibukanku sebagai perantau di Bumi Hibualamo ini. Hingga akhirnya secara tidak sengaja suatu sore pada awal Mei 2015 di Tanjung Pilawang, bertemu dengan om Yus, guide diving yang pernah aku hubungi tadi, dan membuat janji untuk diving besoknya. Ternyata om Yus sudah bisa menebak kalo aku yang selama ini menghubunginya lewat email.

Besoknya…
Peserta diving-nya ada 5 orang. Aku, Ivan, Iksan, Dea, dan Danar. Awalnya katanya lebih dari 5 orang, tapi beberapa  peserta yang lain batal diving. Teman-teman baruku ini adalah perantau juga, kecuali Koh Ivan, dan mereka semua bekerja di bidang kesehatan.
buddies :D (kiri-kanan: Ikhsan, Dhanar, Dhea, Ko Ivan, aku :P)
Spot diving hari ini ada dua, yaitu Pulau Pawole dan Mou-mou. Whattt?? Pawole? - ini beneran kaget lho :P - Wahh.. sudah lama aku pengen ke pulau kecil yang terletak di belakang pulau Kakara ini. Akhirnya kesampaian juga, diving pulak. Yess…!!!

Dengan speedboat berukuran sedang bermesin 3, penyeberangan dari meeting point di Tanjung Pilawang (Tobelo)  ke pulau Pawole ternyata sekejap saja. Setidaknya lebih cepat lah daripada naik katinting. 15 menit ada kayaknya.
Nahkoda kita. hehe
Pasir putihnya langsung menarik perhatiankusejak pulau ini terlihat dari kejauhan. Apalagi airnya yang jernih dengan gradasi warna yang indah. Pohon-pohon yang hijau serta suasana yang sunyi, membuatku makin takjub saja dengan pulau yang tidak berpenghuni ini. Dan syukurlah, pas sudah tiba di pulau ini kami tidak langsung turun diving, tapi menunggu tabungnya diisi udara dahulusekitar mungkin lebih dari setengah jam. Jadi waktu menunggu bisa dimanfaatkan keliling sebentar menikmati suasana pulau. Hehe…
Pantai di Pulau Pawole
Aku hanya menyusuri sisi pantai yang menghadap Pulau Kakara saja. Selain pasir putih, ada beberapa bagian dari pantai yang terdiri atas batu karang. Terumbu karang di dasar laut yang dangkal terlihat dari pantai karena jernihnya air.
Pantai yang menghadap pulau Kakara
Pulau Pawole
Sambil menunggu, foto-foto dulu, main-main pasir dulu, ngerumpi dulu. Ya nggak sob? Hehe..
Awalnya aku berpikir pada hari ini pulau ini akan menjadi milik kami. Hehe. Tapi ternyata makin lama, pulaunya makin ramai. Ada sebuah perahu cukup besar merapat, dan menurunkan banyak wisatawan. Sepertinya wisatawan lokal. Wah, susana sunyi berubah seketika. hehe.....
Sambil menunggu tabung diisi udara
bakarlota dulu. hehe
Setelah semua tabung terisi udara, saatnya nyemplung. Hmm, sudah lama aku tidak pake alat diving, untunglah masih ingat caranya. Hampir sekitar 6 bulan tidak diving soalnya. Seorang diver mestinya refresh diving minimal 6 bulan sekali :P

Biar kekinian, sebelum turun, selfie dulu lah... hehe... 
Om Yus (kiri)
Ada anak-anak yang kepo melihat kakak-kakak dengan perlengkapan diving. Mereka pun tak segan-segan mendekat, bermain sebentar, ngobrol-ngobrol, tanya-tanya dan tentu saja foto-foto bareng. Nanti kalau udah besar, belajar menyelam pake alat seperti kakak ya dek? hehe...
Kasihan om Yus lagi sibuk, kitanya selfie :P
Kami diving dengan beach entry.Diving dimulai dari area pantai (entry)  yang landai (slope). Mengamati sisi dangkal yang didominasi hard coral.
area slope
Kemudian kami mulai meninggalkan area slopelalu turun dan menyusuri bagian wallhingga ke kedalaman lebih kurang 15m. Untuk terumbu karang sejauh penglihatanku sih lumayan. Meski tidak seberagamseperti di Bunaken. Visibilitinya juga bagus. Ikannya tidak terlalu banyak yang menampakan diri, mungkin masih malu-malu mereka kali yaa lihat orang baru. hehe...

menyusuri wall
sea fan
ada bintang di laut... :O

Seperti yang sobat bisa lihat di foto-fotoku, tidak terlihat warna warni terumbu karang. Hal ini disebabkan kurangnya cahaya matahari karena terangnya telah diserap oleh air laut. Semakin dalam, ada warna-warna yang kelihatan seolah pudar. Objek di dalam laut yang semakin dalam mumnya kelihatan berwarna hijau, cokelat, putih  atau biru. Namun apabila dinding-dinding atau terumbu karang itu disenter, maka akan tampak warna warni aslinya yang indah.


Karena sudah lama aku tidak diving, kesempatan ini sekaligus refresh diving dan sedikit demi sedikit memperbaiki skillterutama buoancy yang masih agak kacau banget. Haha... Buoancy atau daya apung yang baik memang sangat penting bagi seorang diver. Dengan buoancy yang baik, maka penyelaman akan menjadi lebih rileks, menghindari rusaknya karang karena tersentuh atau tertindih badan kita, dan meminimalisasi naiknya sedimen atau pasir halus dari dasar laut yang bisa terjadi karena kita terlalu "rusuh" ketika menyelam yang kemudian mengganggu visibility atau tingkat kejernihan pandangan dalam air. Selain itu, kontrol buoancy yang baik juga sangat bermanfaat dalam menjaga keseimbangan untuk kegiatan underwater photography. Jadi, manfaat teknik buoancy yang baik bukan hanya untuk kita sendiri, tetapi untuk penyelam yang lain di dekat kita. Untuk mendapatkan teknik buoancy, jam terbang dan latihan merupakan kunci utamanya.
Okk...!!!!! :D
Arus dalam laut Pulau Pawolesaat kami diving lumayan tenang jadi untuk penyelam pemula seperti saya masih aman lah. Hehe...
Selama penyelaman, aku buddy-an sama koh Ivan. Seorang apoteker dengan jam terbang penyelaman yang jumlahnya berpuluh-puluh kali lipat dari log-ku. Seru juga mendengar cerita pengalamannya yang sudah menyelam di berbagai tempat di Halmahera Utara dan Morotai dengan berbagai kondisi laut. Waahh....
nggak di darat, nggak di laut, back selfie is a must. hehe....
koh, tunggu koh... haha..
Setelah belum puas keliling di diving spot pulau Pawole, divingnya pun kami sudahi dan bersiap-siap menuju ke spot diving berikutnya, yaitu Mou-mou.
ascending....

***
Tips diving di Pulau Pawole.
  • Sempatkan untuk menikmati suasana pulau, jangan cuman diving aja, hehe... ;
  • Sempatkan untuk mengunjungi pulau-pulau sekitar (Pulau Kakara, Pulau Tagalaya, dll);
  • Just enjoy :D 
*****

Monday, April 27, 2015

Snorkeling di Pantai Kupa-kupa


(Pantai Kupa-kupa – Halmahera Utara, 8 April 2014)

Setiap kali ke pantai, biasanya aku penasaran dengan kondisi bawah lautnya. Gimana terumbu karangnya, ikan-ikannya, dan lain sebagainya. Hehe… Demikian juga dengan pantai Kupa-kupa ini. Lautnya yang sangat tenang dan lumayan jernih membuatku makin penasaran.
Pantai Kupa-kupa, Halmahera Utara
Hallo sobat sekalian, kali ini aku akan menyambung postinganku sebelumnya tentang Pantai Kupa-kupa. Tidak hanya menikmati pantai dan berenang saja, tapi snorkeling juga patut untuk tidak dilewatkan apabila berkunjung di pantai yang sunyi dan berarus tenang ini. 
Pantai Kupa-kupa, Halmahera Utara
Biasanya sebelum snorkeling, aku mencari informasi meski sedikit tentang kondisi lautnya. Dari informasi yang aku dengar, katanya terumbu karang di sini kurang bagus. Hal ini diakibatkan karena adanya penangkapan ikan dengan menggunakan bom oleh nelayan sekitar. Namun, syukurlah aktifitas pengeboman ikan itu sudah lama ditinggalkan para nelayan. Mereka telah menyadari bahwa kerugian yang ditimbulkan akibat hal tersebut lebih besar daripada manfaat yang diraup dari laut ini. Senang mendengarnya… Hoho..

Aku snorkeling sendirian dan hanya di seputaran pantai saja, dengan kedalaman hingga sekitar 3 atau 4 meter-an saja. Sejauh pengamatanku, terumbu karangnya lumayan lah. Tidak sebagus, se-beraneka ragam dan sepadat seperti di Pulau Kakara atau Pulau Meti. Namun begitu, ikan-ikannya cukup banyak. Berikut ini beberapa foto di antaranya.

Bawah laut Pantai Kupa-kupa, Halmahera Utara

Terumbu karang di Pantai Kupa-kupa, Halmahera Utara

Terumbu karang di Pantai Kupa-kupa, Halmahera Utara


Terumbu karang di Pantai Kupa-kupa, Halmahera Utara

Bawah laut Pantai Kupa-kupa, Halmahera Utara

Bawah laut Pantai Kupa-kupa, Halmahera Utara

Bawah laut Pantai Kupa-kupa, Halmahera Utara
Aku masih bisa melihat sedikit sisa-sisa “korban” bom ikan. Namun demikian, ada banyak karang-karang muda yang sepertinya sedang “recovery” di sini dengan kondisi yang bagus. Ah, syukurlah… Mudah-mudahan beberapa lama lagi akan makin bagus. Hehe…

Bawah laut Pantai Kupa-kupa, Halmahera Utara

Bawah laut Pantai Kupa-kupa, Halmahera Utara
Terumbu karang di Pantai Kupa-kupa, Halmahera Utara
Oh, ya. Tidak ada tempat penyewaan alat snorkeling di sini. Jadi bawa sendiri ya…

***
Untuk tips bagaimana ke Pantai Kupa-kupa, bisa baca postinganku sebelumnya (klik di sini).

*****

Thursday, January 1, 2015

Belajar Diving day#4, Last day : Menanam Terumbu Karang Hingga Nongkrong di Parkiran Motor Bawah Laut Pantai Malalayang


(Manado, 3 Desember 2014) 
Berkenalan dengan dunia scuba diving dan bergaul dengan orang yang punya passion dalam bidang ini menumbuhkan kesadaranku akan betapa berharganya kelestarian bawah laut terutama di kawasan pantai Malalayang, Manado.
 
Tak terasa, tiba juga di hari ini. Hari terakhir kursus diving :( . Kegiatannya berupa fun diving saja. Fun Diving? Hmm… kedenganrannya menyenangkan. Tapi sayangnya, kondisi laut sedang tidak lagi fun. Laut sedang bergelombang. Ombaknya lumayan bergelora. Apa akibatnya? Kabur coy lautnya. T-T. Tidak hanya itu, di bawah laut nanti, bisa dipastikan akan terasa goyangannya. Hehe… Coach menawarkan kepadaku, apakah sesi fun diving hari ini ditunda besok saja. Atau bisa juga nanti saat aku balik ke Manado lagi. 

“Bisa ditunda. Yang jelas, saya masih punya hutang diving sama anda. Nanti kapan ada kesempatan ke Manado, kabarin saja,” kata coach.

Setelah ditimbang-timbang, aku memutuskan untuk menyelam saja hari ini. Meski mungkin tidak terlalu fun karena lautnya yang kurang mendukung, namun aku pikir kondisi ini akan menjadi sebuah tantangan dan akan memberi kesan serta nuansa tersendiri. Oke, aku mau turun coach. Kebetulan hari ini ada kegiatan penanaman terumbu karang. Bisa sambil liat-liat atau bantu-bantu melestarikan terumbu karang di pantai Malalayang ini. Ternyata kegiatannya direkam juga sama TV asing. Wah, bisa numpang eksis nih. Meski jadi figuran dan tidak dibayar. Hehe…
terumbu karang yang akan ditanam
Dari warung Boboca, kami menuju ke arah Kalasey. Masuk di salah satu dermaga yang sepertinya tempat ini bekas resort. Masih di perairan pantai Malalayang.

“Dulu di dermaga ini tempatnya dugong,” kata Ghe’, seorang diver perempuan senior. Melalui Ghe’ inilah, keberadaanku sebagai diver junior di sini dititipkan coach tadi. Hehe…

Disamping dugong, mandarin fish dan beberapa spesies langka lainnya dahulu masih mudah ditemui di beberapa titik di sepanjang pantai Malalayang. Sejak kegiatan reklamasi pantai bergeliat, spesies-spesies tersebut makin jarang terlihat.
boat yang digunakan menuju spot diving
Dengan menggunakan boat, kami bergerak ke spot pertama. Spot ini adalah sebuah parkiran motor bawah laut di pantai Malalayang. Parkiran motor? Bawah laut? yoi sob. Jadi, motor-motor tersebut adalah sitaan kepolisian Manado yang kemudian oleh para penyelam setempat motor-motor tersebut “diparkirkan” di bawah laut. Oh, ya. Ada hal yang mungkin mengerikan bagi sebagian orang apabila mengetahui cerita dibalik motor-motor tersebut. Apa itu? Sebagian dari motor-motor itu adalah bekas kecelakaan yang pemiliknya bahkan sudah meninggal dunia akibat kecelakaan tersebut. Iiiiiiiiiiiiiiihhhhhh… Eh, tapi aku kog nggak takut yaa? Mungkin karena nyelamnya rame-rame. Ada kurang lebih 8 orang yang mau turun. Aku nanti ikut om Arie atau Ghe. Pokoknya patokanku kedua orang tadi. Hehe…

Briefing dulu oleh salah satu diver perempuan. Kelihatannya udah senior. Rencananya dia hanya turun satu kali saja, karena harus mengurusi acara ulang tahun anaknya. Karena ada dua orang asing, jadi mba’nya briefing pake bahasa Inggris.
briefing dulu sebelum turun
Tadi sebelum turun, om Fani sempat nyeletuk,”sedia Rp. 5000 yaa.” Akupun menanggapinya dengan serius sambil bertanya dalam hati, buat apa ya?? Ternyata beberapa teman juga ada yang bertanya-tanya.

“Parkiran di manado sekarang sudah Rp.5000 untuk motor,” lanjut om Fani. Whaaattt??? Hahahahahahahahahahaah… Bisa aja si om.

Oke, mari turun. Dari semua peserta, ternyata ada salah satu yang berubah pikiran, mba’ Dewi. Karena sudah lebih dari setahun tidak diving, mungkin masih perlu penyesuaian lagi. Jadinya mba Dewi mengurungkan niatnya.

siap semua? satu.. dua.. tiga.. hehe
Penanaman Terumbu Karang
Seperti diprediksi sebelumnya, air lautnya kabur. Visibilitinya kira-kira 4 meter. Perlahan-lahan turun, sampai juga di spot pertama. Sebuah house reef buatan dimana kami akan menanam terumbu karang di situ. Sama sekali aku tidak tahu bagaimana caranya. Jadi awalnya mengamati apa yang dilakukan teman-teman dulu. Kemudian baru mencoba menanam. Caranya adalah dengan mengaitkan terumbu karang pada tatakan rangka besi yang dibentuk sedemikian rupa. 
silahakan terumbu karangnya...
rangkaian besi tempat terumbu karang ditanam
seperti ini cara nanamnya. tinggal dikait
mudah2an tumbuh subur dan rimbun. yang kutanam itu yang di tengah dengan kait warna hitam
Ternyata menanam karang semudah itu yaa… Mudah-mudahan karang yang kami tanam hari ini bisa tumbuh dengan baik dan rimbun. Meski masih baru, rasanya senang sekali bisa berpartisipasi dalam kegiatan ini bersama orang-orang yang peduli dengan lingkungan laut Pantai Malalayang yang katanya proses reklamasinya masih bisa berlanjut. hmm. Kegiatan pelestarian ini bisa dikatakan sebagai salah satu upaya “mempertahankan” bagian pantai yang tersisa.
Parkiran Motor Bawah Laut

Kemudian kami beralih ke parkiran motor atau Motorcycle House Reef di sebelahnya. Pemandangan yang aku lihat tidak sesuai ekspektasi. Bukan karena keruhnya air. Tapi kondisi motor yang sudah berkarat dan kusam. Ya iya lah, namanya juga udah direndam di bawah laut. hehe… emangnya ekpektasiku apa? Oke, tadi aku mau cari Kawasaki ninja RR, tapi tidak ketemu. Haha… Aku juga ngebayangin motor-motor warna warni gitu kayak di parkiran Mantos. Ternyata yang ada hanya motor karatan. Tapi justru di situ ada daya tariknya. Yaitu motor-motor tersebut sudah menjadi rumah bagi ikan-ikan dan biota laut lainnya. Aku bahkan jadi lupa nuansa mistisnya karena saking asiknya mengamati hewan bawah laut yang menjadi penghuninya. Padahal suasana laut yang keruh sepertinya menambah ke-angker-annya. Hehe…
selamat datang di parkiran motor bawah laut Pantai Malalayang. biaya parkir Rp. 5000,-. hehe...
parkiran motor ini dipadati ikan-ikan.
dipilih.. dipilih... hehe..
tadi parkirnya di mana yaa... lupa... hehe...
Itu yang lagi syuting...
ada yang berminat menyewa? hehe...
eh, itu tangannya siapa ya?

ini ikan apa ya namanya? ada yang tahu?
ukurannya kecil-kecil. kalau diperhatikan, kayak lele. ada kumisnya.
Selesai di spot ini, kami kemudian beristirahat di warung, sambil menunggu penyelaman kedua. Kali ini di Boboca House Reef, sama seperti pada hari pertama dan ketiga. Kami mempersiapkan peralatan, sambil menunggu persiapan kru tv tadi dan berharap semoga gelombang laut bisa berkurang.
Reruntuhan Bekas Gazebo di Boboca House Reef, Pantai Malalayang
Ternyata gelombang laut masih sama seperti tadi. Kamipun bersiap-siap turun. Kali ini dengan seorang ibu-ibu dengan BCD-nya dipenuhi pin boneka dan bunga-bunga warna warni. Lucu deh.
Sebelum turun, siapkan alat dulu
Dilakukan pengecekkan alat lagi
menanti teduhnya ombak yang tak kunjung reda. hehe....
sebelum turun, narsis dulu boleh kan. hehe..
Agak susah untuk turun di pantai yang berombak. Setelah semua berkumpul, kemudian turun. Salah satu teman kembali mengurungkan niatnya untuk diving dengan kondisi laut seperti ini.
ombaknya lumayan, jadi mesti hati-hati turunnya
yess.... sampai juga di laut. hehe...
menunggu aba-aba untuk turun bareng.
Kami menuju ke laut perlahan-lahan dan turun ke bawah. Sama seperti spot pertama tadi, visibility spot ini kurang bagus. Sempat terpisah dengan kelompok yang lain, kami kemudian berlama-lama di seputaran gazebo. Sempat beberapa kali goyah tadi karena gelombang. Dahulu di gazebo ini bisa dimanfaatkan untuk underwater wedding party lho. Tapi kemudian gelombang kuat menghantamnya. Kini reruntuhan bekas gazebo ini menjadi rumah bagi beberapa jenis ikan dan biota laut.
puing gazebo yang sudah runtuh, menjadi rumah bagi biota laut
salah satu penghuni gazebo
ikan-ikan ini kerap ditemui di gazebo
salah satu penghuni gazebo
salah satu penghuni gazebo
Lama menunggu dan kondisi laut sepertinya tidak berubah, akhirnya Ghe’ memberikan aba-aba untuk naik. Kami naik di atas boat yang kami tumpangi di spot pertama. Sambil menunggu beberapa orang lain, kami ngobrol tentang hal lucu pas lagi di bawah tadi. Setelah semua lengkap, kami bergegas ke dermaga sambil menikmati senja di atas laut Malalayang. Kejadian lucupun berlanjut saat om Fani terperosok di dalam tempat penyimbapan tali jangkar di bagian depan boat. Sayangnya kurang sigap tadi sehingga tidak sempat mengabadikan momentlangka itu. Hehe…
keren....
rehat...
sunset dalam perjalanan pulang...
Sampai di warung Boboca, kembali berbincang-bincang dengan coach. Tidak lupa coach me-review kembali materi-materi penting selama beberapa hari ini.

Terima kasih coach Echon dan para asisten coach atas ilmunya. Pengalaman yang aku dapatkan selama 4 (empat) hari pelatihan ini adalah pengalaman yang mahal. Jauh lebih mahal dan berharga dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan. Senang rasanya berkenalan dengan orang-orang yang punya passion pada dunia diving dan peduli pada kelestarian lingkungan bawah laut pantai Malalayang, Manado.

kiri: Coach Echon, kanan: Om Fani. Om Arie dah pulang duluan. hehe..

…Never dive alone…

…Lets enjoy 70% of our world…